11 Agustus 2009

Sayang,...Aku Tak Peduli!

Kubutakan mataku dari anjing-anjing lepra
Kuganjal telingaku dari gonggongan sembernya
Kubungkam bibir ini agar tak sepatah makian terlontar

Aku tetap tak beranjak, meski moncong keparat itu menyalak
Tak bergeming, coba leburkan jiwa dalam khayalan…tak peduli pada kenyataan 
Iya..iya…aku merasakan mereka pancing amarahku…

Oalah…asu-asu rumahan itu tetap meneriaki aku
Lagaknya santun memakai kopiah putih 
Jikalau bicara keluarkan suara besar walau nadinya kecil
Melengking merasa benar menyambut majikannya…padahal hanya klakson mobil tua yang melintas.

Hidungnya merasa pintar mengendus-endus
Ya…hanya mengendus santapan tetangga, 
Kemudian dengan rakus giginya bergemeretuk, melumat dan menelannya
Dan tertidur diantara tong sampah ujung gang…
Iya…ya…mereka mengajakku ”Ayo kita bermain”

Tunggu!
Hatiku membeku saat ini...
Gumpalannya memutih, membentuk kerak tak menawan
Kedengkian mengendap dan menetap menjelma kristal-kristal putih
Akhirnya bersedimen ciptakan kemuakan, meski tak mampu muntahkan kata
“Terkutuk kalian!”

Kemudian hati ini mengeras,
Lebih keras dari batu karang, lebih keras dari intan berlian
Tak tergores apalagi terkikis walau dewa-dewa bertitah
Mengeras dan berdiam, melekat erat mencengkram jiwa putih
Mungkin rayuan Cleopatrapun tak mampu melembutkannya
Ah…aku tak mengerti apa yang menghangatkan.

Hati yang beku keluarkan kepulan asap putih berputar dan berputar
Wujudkan emosi purbakala yang terperangkap, 
Mencari celah keluar sebagai ujung kesirnaan…
Biarkan zat tersebut berotasi pada sukmaku
Hingga saatnya tersibak, dan ujung-ujung asap itu menari, bergoyang dan menjilat semua didepannya…

Sayang…aku tak peduli!

Erlangga, 6 Januari 2007

Tidak ada komentar: